OKKFKM-Aksesi sebagai Aksi Pasti Indonesia

Berdasarkan data statistik yang di lansir dari okezone.com, jumlah perokok yang ada di Indonesia adalah kedua terbesar di dunia. Institute for Health Metrics and Evaluation menyatakan bahwa perokok di dunia berjumlah kurang lebih 52 juta orang. Data tersebut tidak saja diramaikan oleh pria tetapi juga dari kalangan wanita. Hal ini dapat diartikan bahwa rokok benar-benar telah menjadi unsur yang sulit untuk dipisahkan dari masyarakat.

Dengan berbagai macam kandungan racun yang dikandungnya, rokok jelas memiliki efek negatif yang luar biasa bagi pecandunya yang mengkonsumsi dalam jangka waktu yang lama. Risiko terserang jantung koroner, degradasi penglihatan, kanker paru-paru bahkan kanker ginjal dapat lebih banyak terjadi pada perokok aktif. Terlebih lagi saat ini bukan hanya orang dewasa yang merokok tetapi juga anak-anak kecil dan remaja yang ikut terseret menjadi seorang pecandu rokok. Bisa dibayangkan bagaimana kualitas tubuh masyarakat Indonesia yang sudah tercemari oleh rokok. Angan-angan memiliki pemuda yang bertubuh kuat sulit untuk diwujudkan sehingga produktifitas negara pun ikut menurun. Maka pengambilan langkah pengurangan jumlah perokok di Indonesia sudah sangat genting untuk diambil.

Forum of Initiative Tobacco Control Action Planner akhirnya dibentuk sebagai suatu forum konsolidasi Mahasiswa Kesehatan Masyarakat dari berbagai perwakilan di daerah-daerah. Forum ini di bentuk sebagai wadah perembukan mahasiswa terhadap percepatan aksesi Framework Convention on Tobacco Control atau bisa disebut sebagai FCTC. FCTC adalah suatu gagasan yang dibentuk oleh WHO sebagai bentuk upaya pengurangan penggunaan tembakau di dunia agar membuat aliansi di berbagai negara dengan membuat perjanjian dengan negara-negara tertentu. Didalamnya terdapat 38 pasal yang mengatur penggunaan tembakau. Saat ini sudah ada sekitar 177 negara yang meratifikasi & aksesi FCTC. Tapi masih ada 9 negara yang belum meratifikasi sekalipun sudah mentandatangani surat perjanjian.

Sayangnya, upaya FCTC agar segera di aksesi negara Indonesia itu terasa sangat sulit. Salah satu hal yang menyebabkan ini adalah karena tersebarnya opini bahwa hal ini dapat menyebabkan terancamnya petani-petani tembakau di Indonesia. Indonesia memang terkenal dengan tingginya angka produksi tembakau. Tetapi, hal ini sebaiknya tidak menjadi batasan bagi pemerintah untuk tegas menangani jumlah perokok di Indonesia. Akan ada lebih banyak lapangan  kerja yang lebih baik untuk kesejahteraan masyarakat seperti bekerja untuk LSM daripada bekerja untuk industri rokok. Para petani juga dapat mengganti tanaman tembakaunya menjadi tanaman buah-buahan atau sayur-sayuran sehingga kebutuhan pangan masyarakat dapat terpenuhi. Dengan beralihnya para petani tembakau menjadi petani konvensional, industri rokok akan kekurangan pasokan bahan baku sehingga produksi rokok dapat di tekan.

Dengan tidak ikutnya Indonesia mengaksesi FCTC akan banyak menimbulkan beragam kerugian baik di dalam maupun di luar negeri. Pertama, negara Indonesia akan tetap menjadi negara yang sangat bebas dalam produksi dan penggunaan rokok. Memang benar FCTC tidak sepenuhnya dapat memangkas angka penggunan rokok tetapi  setidaknya FCTC dapat menjadi pagar pembatas bagi Indonesia agar tidak terlalu bebas menjadi korban tembakau. Kedua, negara Indonesia akan kehilangan martabatnya di mata bangsa lain dimana rakyat Indonesia dianggap tidak memperhatikan kesehatan dan jauh dari kesadaran akan hidup sehat. Terlebih lagi, Indonesia adalah satu-satunya negara yang belum mengaksesi FCTC di kawasan Asia.

Maka, aksesi negara Indonesia terhadap FCTC adalah suatu aksi yang sangat ditunggu-tunggu bagi kalangan masyarakat Indonesia yang sadar akan bahaya rokok dan merasa bahwa perlu langkah pasti dalam penanggulangan masalah ini. Karena itu, pemerintah diharapkan dapat segera menimbang hal ini lagi agar Indonesia dapat menentukan sikap kepada industri-industri rokok agar tidak lagi menjadikan Indonesia sebagai objek besar. Yang tidak kalah penting juga adalah agar masyarakat Indonesia sadar untuk menjaga kesehatan dan mau merubah kebiasaan lama agar generasi yang akan datang dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat.

Esensi penulisan: sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat, saya merasa bahwa aksi penggunaan tembakau atau rokok dapat diwujudkan dengan peran aktif sebagai mahasiswa. FCTC yang belum juga di ratifikasi oleh Indonesia sebaiknya menjadi cambuk bagi kita masyarakat Indonesia bahwa kesadaran hidup sehat masih sangat minim. Maka dari itu, perlu ada upaya yang baik dan tepat dalam mengatasinya.

Sumber

http://m.okezone.com/read/2014/01/09/482/924216/jumlah-pria-perokok-di-indonesia-tertinggi-kedua-di-dunia

 http://okk-fkmui-2014.tumblr.com/post/94340717779/tanya-jawab-fctc

http://health.liputan6.com/read/736074/benarkah-ratifikasi-fctc-matikan-pertani-tembakau

 

 

OKKFKM-Mahasiswa, Inilah Saatnya!

           Dalam upaya perwujudan masyarakat yang sehat, dibutuhkan peran aktif preventif dari tiap lapisan masyarakat. Sikap aktif preventif adalah sikap pencegahan diri dari berbagai macam penyakit, sehingga masyarakat lebih kritis dalam menjaga kesehatannya sendiri. Masyarakat yang memiliki peran penting ini diantara lain adalah para dokter, lembaga kesehatan, tokoh masyarakat. Selain itu, yang dapat berperan penting dalam tindak preventif tadi adalah mahasiswa atau sarjana studi kesehatan masyarakat.

Ilmu kesehatan masyarakat adalah rumpun ilmu yang mempelajari upaya preventif penyakit dan cara hidup sehat secara keseluruhan, baik dalam ruang lingkup kecil ataupun besar. Sekalipun mahasiswa FKM belum menjadi sarjana, para mahasiswa diharapkan dapat tetap aktif melaksanakan tugasnya di masyarakat. Karakter pemuda yang dimiliki oleh mahasiswa, seharusnya dapat menjadi bahan bakar bagi mereka untuk dapat melebarkan sayap potensi pada dirinya di bidang pencegahan penyakit. 

 Pencegahan penyakit ini dapat melibatkan berbagai bidang yaitu lingkungan, pangan, psikologi manusia, ekologi dan lain-lain. Para mahasiswa FKM dituntut untuk menguasai hal-hal diatas sehingga para mahasiswa bisa menjadi cakap dalam upaya pencegahan penyakit. Mahasiswa FKM juga dapat menyelesaikan masalah kesehatan yang kompleks dimana analisa penyelesaian masalah tidak terpaku kepada satu sudut pandang, melainkan lebih menyeluruh lagi dari berbagai aspek kehidupan. Dengan modal yang dapat diandalkan ini, para mahasiswa FKM dapat mulai bergerak menjalankan perannya di masyarakat.

Peran pertama yang diunggulkan sebagai mahasiswa FKM adalah menjadi penyuluh kesehatan yang informatif bagi masyarakat. Masyarakat heterogen di ibukota Jakarta, mayoritas adalah warga yang melakukan urbanisasi dari daerah-daerah, dimana warga belum paham bagaimana seharusnya menjaga kebersihan dan kesehatan. Penyuluhan yang dapat dilakukan mahasiswa FKM adalah ikut ramai menyelenggarakan acara sosial penyuluhan gaya hidup sehat di daerah-daerah yang dianggap perlu diadakan. Disini, para mahasiswa FKM dengan cara penyampaian yang segar dan mudah dimengerti akan membuat masyarakat menjadi tertarik kepada isi penyampaian penyuluhan hidup sehat. Selain turun ke medan langsung untuk penyuluhan, para mahasiswa FKM juga dapat dilakukan dengan kampanye online di internet. Membuat slogan-slogan persuasif dan mudah untuk di serap masyarakat, dengan tujuan bahwa gaya hidup sehat adalah sesuatu yang sophisticated dan baik untuk diikuti. Hal ini bertujuan agar pencegahan terhadap penyakit sangat penting untuk dilakukan.

Yang kedua, para mahasiswa FKM dapat menjadi sumbu kebijakan-kebijakan kesehatan yang dapat diajukan kepada pemerintah. Mahasiswa yang lekat dengan sifat kritis dan analitis, diminta peduli akan lingkungan sekitar dan mau bergerak menuju perbaikan. Yang ketiga, para mahasiswa dapat menentukan komposisi yang seimbang antara sistem kependudukan, kesehatan manusia, manajemen keuangan, sosiologi dan kondisi lingkungan agar tercipta keseimbangan. Apabila keseimbangan lingkungan tekah tercapai, maka akan mudah untuk mencegah masyarakat dari segala macam penyakit. Disamping itu, ruang lingkup pandangan masalah akan lebihi besar dan akan sangat mudah untuk menganalisis suatu masalah yang terjadi di lapangan bagi mahasiswa FKM.

Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa mahasiswa FKM dapat mengambil peran penting dari pencegahan penyakit di Indonesia. Segala potensi yang ada di diri para mahasiswa merupakan kunci untuk menemukan mahasiswa yang benar-benar ingin menjadi orang yang berguna di masyarakat. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh mahasiswa FKM yang dapat menghasilkan perubahan yang cukup signifikan. Karena pada hakikatnya mahasiswa adalah pemuda-pemuda yang membuat perubahan di masyarakat menuju dunia yang lebih baik.

Esensi penulisan: saya belajar bahwa sebagai mahasiswa FKM kami sudah dituntut untuk berdedikasi kepada masyarakat. kami harus bertindak aktif tanggap dalam masalah atau isu sehari-hari sehingga dapat mencari pemecahan masalah dan pencegahan penyakit dapat terwujud.

OKKFKM-Mahasiswa; Antara Intelektual & Spiritual

            Kehidupan pemuda Indonesia saat ini sangat dipengaruhi oleh 2 hal. Media dan lingkungan sekitarnya. Para pemuda yang mengenyam pendidikan di bangku kuliah akan memiliki cara pemikiran dan cara pandang yang khas, kritis dan analitis. Hal ini merupakan hasil dari kerja keras lembaga Universitas dalam membentuk kecerdasan mahasiswa dalam berpikir, mengajukan pendapat, mengambil keputusan dan menyelesaikan beragam masalah. Sehingga para mahasiswa dapat berkembang menjadi insan yang dapat diandalkan masyarakat. Disamping pembinaan secara akademis, lembaga Universitas juga mewajibkan para mahasiswa untuk mengasah diri mereka di bidang kerohanian. Lembaga Universitas biasanya memasukan materi kerohanian di semester awal kuliah. Seperti di Universitas Indonesia, mata kuliah agama Islam terdiri dari 2 sks di semester awal. Tetapi pengembangan kerohanian tidak cukup hanya dengan akademis tertulis, perlu adanya praktek langsung yang menjadikan para mahasiswa aktif berkembang di bidang kerohanian.

            Keaktifan mahasiswa di bidang kerohanian dianggap sangat penting karena manusia yang ideal tidak akan menjadi utuh tanpa adanya peran agama di diri mereka. Agama adalah risalah tuhan yang telah diturunkan kepada umat manusia sehingga segala bentuk ajarannya merupakan kebaikan baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Allah swt adalah Dzat yang Maha Pencipta. Ia lebih mengetahui hal yang baik untuk diri kita. Oleh karena itu umat beragama harus berpegang teguh pada ajaran agama itu sendiri. Di dalam Islam, orang yang berilmu memiliki keutamaan tersendiri sebagaimana tercantum dalam kitab Al Qur’an, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.s. al-Mujadalah : 11). Umat muslim juga diwajibkan untuk selalu menuntut ilmu seperti yang dikutip dari hadits Rasulullah Muhammad saw, “Menuntun ilmu wajib bagi setiap Muslim; sesungguhnya orang yang menuntut ilmu itu dimintakan ampunan baginya oleh semua makhluk hingga ikan-ikan yang ada di laut.” (Riwayat Abdul Barr). Hal-hal diatas menunjukan bahwa agama menginginkan umatnya untuk bekerja secara dinamis dalam menuntut ilmu.

            Adanya peran agama dalam aktivitas kampus sebetulnya dapat menghasilkan situasi belajar yang lebih kondusif dan  memaksimalkan potensi belajar. Seperti dalam Islam, para muslim mengenal etos kerja dalam dimensi yang sudah ditetapkan oleh Allah swt melalui hadits Rasul-Nya, “Sesungguhnya Allah menyukai apabila seseorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan lalu dia menyelesaikannya dengan baik.” (Riwayat Thabrani). Nilai-nilai keagamaan seperti amanat, tepat janji, giat bekerja dan sebagainya, dapat menjadi poin penting dalam pembentukan karakter mahasiswa. Hal ini dapat diakui apabila kita merunut pada sejarah kekhalifahan ‘Abbasiyah dimana agama dan kehidupan Universitas beriringan dengan harmonis. Ilmu pengetahuan pada abad itu melesat jauh melampaui orang-orang Eropa. Banyaknya ilmuwan sains, filsuf dan penemuan-penemuan baru merupakan bukti bahwa agama dan sains merupakan cahaya bagi umat manusia menuju peradaban yang lebih maju.

            Ilmu pengetahuan dan agama adalah 2 hal yang saling mengisi satu sama lain. Ilmu pengetahuan akan membuat kita menjadi manusia yang sadar bahwa dunia ini merupakan cakrawala yang harus di jelajahi. Setiap jengkal bumi ini harus kita pelajari. Juga bahwa manusia harus bersama-sama menjalani kehidupan yang membutuhkan ilmu pengetahuan di setiap aspeknya. Kemudian agama lah yang akan mengisi hati dan keluhuran moral manusia sehingga ilmu yang kita miliki tidak akan menjadi tombak yang runcing ke diri kita sendiri, melainkan menjadi pedang yang tajam tanpa adanya keangkuhan disana. Oleh karena itu, para mahasiswa diharapkan dapat berpartisipasi aktif di kampus secara akademis maupun non-akademis sekaligus memiliki nilai-nilai kerohanian yang tinggi agar dapat menjadi manusia yang utuh secara intelektual & spriritual.

Sumber:  Habbatussauda, Hobat. “Pentingnya Menuntut Ilmu”. 11 Mei 2011. https://id-id.facebook.com/notes/hobat-habbatussauda/pentingnya-menuntut-ilmu/210156752351574?comment_id=3060186&offset=0&total_comments=8

Alfis Chaniago, Buya H. Muhammad. 2010. “Indeks Hadits & Syarah”. Jakarta

Esensi penugasan: Disini saya ingin menyampaikan bahwa kami para pemuda dapat melejit di bidang apapun dengan landasan nilai-nilai kerohanian yang tinggi agar dapat berkontribusi lebih besar lagi untuk masyarakat. Karena inilah kolaborasi kami untuk UI dan Indonesia!